Menelisik Fakta Persidangan Jalingkos di Pengadilan Tipikor Semarang

Posted: October 2, 2011 in Uncategorized

“Ini Momentum Bagi Kejaksaan untuk Mengembalikan Uang Negara”

Sidang lanjutan kasus jalingkos dengan terdakwa H Agus Riyanto S Sos MM, yang menghadirkan saksi mahkota terpidana Edy Prayitno SH M Hum, Rabu (21/9) dan istrinya, mampu menjadi magnet tersendiri bagi banyak orang di Kabupaten Tegal. Terlebih ketika fakta persidangan sedikit mengungkap tentang aliran uang jalingkos. Seperti apa gambarannya?

LAPORAN : M FATKHUROHMAN

Rabu pukul 08.00 WIB, ruang Pengadilan Tipikor Semarang telah disesaki peserta sidang yang seluruhnya berasal dari Kabupaten Tegal. Suasana riuh itu juga tampak hingga di luar ruang sidang. Mereka datang jauh-jauh dari daerah karena penasaran dengan kesaksian Edy Prayitno, karena dari testimoninyalah Bupati Tegal akhirnya terseret ke meja hijau. Di depan majlis hakim, dia membeberkan penyimpangan yang dilakukannya dalam proses pembebasan lahan di Dukuh Salam, yang menurut pengakuannya atas inisiatif Bupati.
“Semua ini saya lakukan atas inisiatif Bupati, karena Bupati mengaku sedang butuh uang. Jadi pembuatan SPj itu fiktif, bahwa seolah-olah ada pembelian lahan terhadap nama-nama tertentu,” terangnya.

Tak hanya itu, pria yang kini tengah menjalani masa bui di Lapas Tegal Andong ini pun menyampaikan sejumlah catatan pengeluaran hingga Rp 1,73 miliar yang menurutnya dilakukan oleh Bupati. Sumber uangnya menurut Edy adalah dari dana jalingkos.

Terhadap keterangan tersebut, Tim Penasihat Hukum (PH) terdakwa pun mencecar kesaksian Edy. Selain menyoal akurasi waktu dari catatan aliran jalingkos, PH pun mengajukan sejumlah barang bukti guna mementahkan keterangan saksi. “Kami memiliki sejumlah dokumen yang bisa mementahkan keterangan saksi. Kedua, banyak keterangan saksi soal aliran dana yang secara kronologi waktu adalah tak logis. Beberapa transaksi misalnya dilakukan saat klien kami sedang melaksanakan ibadah haji. Ini batal dengan sendirinya,” ungkap Agus Nurudin, salah seorang PH Agus Riyanto.

Dugaan Pencucian Uang
Sebaliknya, dari fakta persidangan Tim PH Agus Riyanto berhasil mengungkap fakta tentang aset jalingkos yang dikuasai Edy Prayitno tetapi kini telah dialihnamakan ke adiknya, Tri Handoko. Istri Edy yang juga menjadi saksi pun tak mampu mengelak soal kepemilikan lahan di belakang RSU Soeselo yang kini telah berubah menjadi rumah makan dan berstatus kepemilikan atas nama Tri Handoko. “Kejaksaan pun tahu bahwa itu adalah aset dari aliran uang jalingkos, karena pada kasus lanjutan jalingkos dengan terdakwa Agus Riyanto, tanah itu masuk dalam dakwaan dan dituduhkan pada klien kami. Padahal semua orang tahu status kepemilikannya,” jelas Agus.

Selain aset tanah tersebut, Agus Nurudin pun menyebutkan sejumlah aset lain yang menurutnya layak diduga kuat sebagai aliran uang jalingkos. Beberapa aset tersebut antara lain usaha penggilingan batu (stone crusher) di Danawarih yang asetnya ditaksir mencapai Rp 3 miliar, sekian hektar tanah di Kalibakung, hingga sebuah cafe di Mejasem yang kesemuanya bernilai mikiaran rupiah. “Saat ini status kepemilikan aset-aset tersebut adalah atas nama adik terpidana, yakni Tri Handoko. Kita bisa melacak track record-nya, apakah dia memang memiliki kekayaan sebanyak itu,” beber PH asal Desa Jejeg Kecamatan Bumijawa ini.

Menurut keterangan Ariyani di fakta persidangan, di antara empat bersaudara suaminya, Tri Handoko adalah yang paling kaya. Sebelum kembali ke Tegal, pria ini menurutnya bekerja di usaha perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Handoko pulang ke Tegal belum lama, karena ingin membuat usaha sendiri di tanah kelahirannya.

“Kami pikir, sangat mudah untuk menaksir kekayaan Tri Handoko ini, yang kini mengelola aset usaha miliaran rupiah. Berapa lama dia bekerja di perkebunan kelapa sawit, gajinya berapa, lantas tinggal dikonfrontasi dengan aset usaha yang kini dimilikinya. Seperti halnya tanah di belakang RSU, kami pun layak menduga kuat bahwa aset-aset usaha tersebut masih dalam kerangka aliran uag jalingkos. Kalaupun saat ini berstatus milik atas nama adiknya, bisa saja itu modus dari pencucian uang. Kalau benar, maka harus disita. Ini momentum bagi kejaksaan untuk mengembalikan uang,” tegas Agus Nurudin.(*)

______________
Sumber: Radar Tegal, 23 Sept 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s